ZNEWS Soppeng-Panggung politik di Bumi Latemmamala kembali berguncang hebat. Belum usai publik bertanya-tanya soal teka-teki ketidakhadiran Bupati Soppeng Suwardi Haseng dalam agenda konsolidasi Partai Golkar beberapa waktu lalu, kini ruang-ruang diskusi warkop dan jagat media sosial kembali dihebohkan oleh isu yang tak kalah sensitif.
Kabar adanya pertemuan privat yang digelar secara diam-diam antara sang bupati Soppeng Suwardi Haseng dengan Muhiddin.
Informasi yang beredar awalnya hanya menyebutkan bahwa kedua figur penting ini sekadar "berpapasan" secara tidak sengaja.
Namun, dalam hitungan hari, rumor tersebut menggelinding bak bola salju. Isu berkembang dari sekadar tegur sapa biasa, menjadi perbincangan panjang, hingga mencuat dugaan kuat adanya pertemuan privat yang berlangsung tertutup dan jauh dari endusan publik.
Di tengah tensi politik daerah yang kian dinamis, mencuatnya cerita semacam ini jelas bukan perkara sepele. Publik di Soppeng pun mulai menunjukkan kegeramannya.
Masyarakat menilai bahwa tidak ada pertemuan yang benar-benar kebetulan di antara dua tokoh besar, terlebih ketika pertemuan itu terjadi tanpa adanya penjelasan terbuka kepada masyarakat.
Pertanyaan keras pun menggema di tengah warga, apa sebenarnya yang mereka bicarakan?Mengapa pertemuan tersebut terkesan dilakukan sembunyi-sembunyi?
Wajar jika masyarakat menaruh curiga. Kasus absennya bupati dalam konsolidasi partai sebelumnya telah memicu spekulasi liar.
Meski alasan menghadiri agenda di Jakarta sempat mencuat, kabar burung mengenai bupati yang sengaja tidak diberi undangan juga berembus kencang.
Kini, dengan munculnya manuver pertemuan "bawah tanah" bersama Muhiddin, dugaan publik makin mengeras bahwa ada skenario besar yang sedang disusun rapi di balik layar.
"Kalau cuma silaturahmi biasa, kenapa harus dikemas seperti pertemuan tertutup? Ini yang bikin kita di warkop berspekulasi," celetuk salah seorang warga yang mengikuti perkembangan dinamika politik lokal dengan nada kesal , pada Minggu (17/5).
Sebagian masyarakat bahkan menilai langkah politik para elite di Soppeng saat ini makin terasa abu-abu. Ada "panggung depan" yang sengaja dipertontonkan dengan penuh senyum ke publik, namun ada "panggung belakang" yang dijaga rapat-rapat kekuasaannya.
Pertemuan diam-diam ini pun dianggap sebagai bukti nyata bahwa sebagian elite tengah memainkan strategi sepihak tanpa ingin melibatkan mata rakyat.
Ketegangan makin menguat karena hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi atau rilis resmi dari pihak terkait mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam pertemuan tersebut.
Sikap bungkam ini justru menjadi bumerang.Semakin ditutupi, desakan publik agar para pemimpin ini buka suara justru semakin kencang.
Warga menuntut agar pemimpin daerah tidak terjebak dalam praktik "politik bayangan".
Masyarakat Soppeng saat ini sudah jauh lebih peka dan cerdas dalam membaca arah angin. Sedikit saja pergerakan, gestur, atau pertemuan antar-tokoh akan langsung diterjemahkan sebagai sinyal politik.
Oleh karena itu, pertemuan bupati Soppeng dan Muhiddin ini tidak bisa lagi dianggap angin lalu, melainkan indikasi kuat adanya negosiasi, taktik deal-dealan, atau konsolidasi kekuatan baru menjelang kontestasi ke depan.
Menghadapi dinamika yang kian memanas ini, masyarakat Soppeng dengan tegas mengirimkan pesan,
transparansi adalah harga mati.
Sebagai pemegang kedaulatan, rakyat berhak mengetahui ke mana arah kemudi politik pemimpinnya.
Masyarakat menolak keras jika Soppeng hanya dijadikan panggung sandiwara, sementara keputusan-keputusan besar yang menyangkut nasib daerah justru dirumuskan dalam ruang-ruang sunyi yang gelap.
Satu suara kini menggema kuat di Bumi Latemmamala
Politik Soppeng sedang tidak baik-baik saja.Politik hanya sedang dipaksa terlihat tenang, sementara di balik layar, ada riak besar yang sedang bergerak dalam diam.

0 Komentar