ZNEWS Soppeng-Proyek pembangunan dinding penahan banjir di Desa Kebo, Kecamatan Lilirilau, yang digadang-gadang sebagai pelindung warga, kini justru berubah menjadi sumber keresahan.
Alih-alih memberikan rasa aman dari ancaman luapan air, proyek senilai Rp15 miliar dari APBN 2025 ini justru memicu kecurigaan publik akibat indikasi praktik culas yang merugikan keuangan negara.
Hasil investigasi di lapangan menemukan sejumlah kejanggalan serius. Kualitas material yang digunakan disinyalir jauh dari spesifikasi teknis (bestek) yang telah ditetapkan.
Konstruksi yang tampak rapuh memperkuat desas-desus mengenai adanya praktik suap masif untuk memuluskan proyek sekaligus meloloskannya dari pengawasan ketat.
Di tengah situasi yang kian memanas, sorotan publik kini tertuju pada Polres Soppeng.
Meski serah terima jabatan belum resmi dilakukan, kasus ini telah menjadi 'warisan' sekaligus ujian kredibilitas perdana bagi AKBP Budi Hariyanto dalam mengemban amanah sebagai Kapolres Soppeng yang baru.
Bagi warga Desa Kebo, ini bukan sekadar masalah spesifikasi material. Ini adalah pertaruhan marwah penegakan hukum di tanah Soppeng.
Keberanian korps Bhayangkara untuk membongkar aktor di balik proyek ini atau justru memilih jalan kompromi yang melukai rasa keadilan.
Alfred, seorang aktivis antikorupsi lokal, menegaskan bahwa kasus ini adalah batu ujian bagi kepemimpinan baru di Polres Soppeng.
"Apakah hukum masih memiliki taring, atau sekadar pajangan di atas kertas saat berhadapan dengan kekuatan modal? Kami tidak butuh janji manis aparat; kami menanti pembuktian nyata," tegas Alfred dengan nada menantang, Jum'at (26/6).
Hingga berita ini diturunkan, PT Tantui Enam Konstruksi selaku pelaksana proyek, maupun Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang sebagai instansi pemilik proyek, masih memilih bungkam.
Sikap tertutup ini semakin memantik spekulasi bahwa pengerjaan proyek tersebut memang dilakukan asal-asalan demi meraup keuntungan pribadi. Masyarakat kini hanya bisa berharap bahwa aparat penegak hukum tidak akan membiarkan uang rakyat terbuang sia-sia demi memperkaya segelintir pihak.(*)

0 Komentar