ZNEWS Soppeng-Taman Kalong, yang sebelumnya menjadi magnet utama dan ruang interaksi sosial di jantung Kota Soppeng, kini tampak tak bernyawa. Area yang dulunya hiruk-pikuk oleh gelak tawa keluarga dan geliat ekonomi warga, kini berubah menjadi kawasan sunyi yang "mati suri".
Pantauan di lokasi pada Sabtu (4/7/2026), pemandangan kontras tersaji di depan mata. Deretan bangku taman yang biasanya menjadi tempat favorit warga untuk bersantai, kini dibiarkan kosong melompong. Tidak ada lagi aktivitas berarti, apalagi keramaian yang biasanya memuncak saat akhir pekan.
Kondisi miris ini ditengarai merupakan dampak langsung dari kebijakan relokasi pedagang kaki lima (PKL) yang sempat beroperasi di kawasan tersebut.
Pemerintah daerah yang berambisi menata kawasan agar terlihat lebih rapi dan estetik termasuk pembangunan fasilitas ikonik bertema hewan justru dinilai abai terhadap dampak sosial dan ekonomi masyarakat kecil yang menggantungkan hidup di sana.
"Tujuan kami datang ke Taman Kalong bukan sekadar mencari kesejukan, tapi juga menikmati jajanan lokal yang ramah di kantong. Rasanya, pemerintah lebih memilih mempercantik ikon hewani daripada memikirkan nasib ekonomi rakyat kecil," keluh, Adi, salah satu warga dengan nada kecewa.
Bagi masyarakat, Taman Kalong seharusnya menjadi ruang publik yang inklusif, di mana akses rekreasi murah dan ekonomi mikro bisa tumbuh berdampingan.
Namun, kebijakan penataan yang diterapkan saat ini justru memisahkan taman dari penggunanya. Warga kini merasa "tersisih" dari ruang publik yang seharusnya menjadi milik mereka.
Keputusan pemerintah untuk mengedepankan proyek estetika di atas kebutuhan ekonomi masyarakat pun menuai kritik tajam.
Banyak pihak menilai bahwa langkah tersebut merupakan bentuk "salah urus" kebijakan publik yang hanya mengejar tampilan luar, namun mematikan denyut nadi ekonomi masyarakat bawah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah konkret dari pihak terkait untuk menghidupkan kembali suasana Taman Kalong.
Jika tidak segera dievaluasi, Taman Kalong bukan tidak mungkin akan terus menjadi monumen kegagalan pemerintah dalam mengintegrasikan pembangunan fisik dengan kesejahteraan rakyat.

0 Komentar